PASANG IKLAN DISINI (728 X 90)

Breaking News

[LIPUTAN] REVIEW FILM SABTU BERSAMA BAPAK OLEH RENDY SAPUTRA

TENTANG BAPAK

CEO Words
Kamis, 14 Juli 2016
Tulisan pertama di hari ini

Hari ini Saya berbahagia sekali, walau mata Saya bengkak karena mengangis tak henti-henti, tetapi inilah air mata sedih, bahagia, haru dan syukur. Semua rasa itu bersatu dalam tetes demi tetes air mata yang mengalir malam ini.

Hari ini Saya dapat rizky nonton Film Sabtu Bersama Bapak. Film ini termasuk film urutan terakhir yang saya list mulai dari Rudy Habibie, Koala Kumal, Tarzan dan berikutnya adalah Sabtu bersama Bapak.

Bagi Saya, menonton film ini adalah rizky, karena hampir saja Saya melewatkan film ini. Film ini benar-benar menyentuh semua sisi dalam hidup Saya. Rendy sebagai anak, Rendy sebagai Ayah, Rendy sebagai suami dan Rendy sebagai individu. Kena semua. Dan dhuuaarrrr. Semua meledak didalam diri Saya.

Kekuatan cerita dari novel Adhitya Mulya ini sederhana namun kuat. Monty Tiwa juga berhasil mengemas semangat novel ini. Good. 

Seorang Ayah yang mengetahui batas hidupnya kemudian merekam dirinya dalam kaset. Dan anak-anaknya hanya diperbolehkan untuk memutar video tersebut di hari Sabtu. Abimana berhasil membangun kekuatan makna dari seorang "Bapak".

Saya gak akan bercerita panjang tentang film ini. Saya akan menuliskan pembahasan film ini pada artikel yang lain.

Tulisan yang ingin Saya tulis malam ini tentang betapa bersyukurnya Saya. Saya yang tumbuh besar bersama Ayah Saya. Tidak hanya di hari sabtu. Tetapi disepanjang hidup Saya. Walau Ayah Saya orang lapangan, yang harus bekerja sekian pekan di lapangan dan sekian pekan di rumah, tapi Saya selalu merasa dibersamai dan dibesarkan.

Tulisan Saya hari ini, adalah tentang Ayah Saya. Kami memanggilnya "Bapak". Artikel ini adalah tentang Bapak.

***

Bapak adalah seorang anak yang lahir dari keluarga pedagang banjar di Pasar Baru. Kondisi ekonomi Indonesia saat itu membuat Bapak dan Kayi (Kakek) hidup dalam keterbatasan.

"Rend, kamu banyak bersyukur, waktu bapak sekolah, mana ada kayi mau tau SPP. Cuma Om yang merhatiin Bapak, baju baju om mu itu dikasih ke Bapak. Sepatu gak pernah ganti".

Begitulah Bapak Saya dibesarkan. Berat dan keras sekali. Kata Nenek, diantara saudara-saudara bapak, Bapaklah yang paling senang menunggui nenek berjualan. Saya makin hormat dan salut kepada Bapak Saya, sejak almarhum nenek bercerita seperti itu.

Walau hidup terbatas, Bapak Saya memiliki pola fikir yang lurus dalam hidup. Selesai SMEA, Bapak Saya melamar kerja, alhamdulillah salah satu perusahaan minyak asing sedang melakukan proses produksi di lahan migas Badak. Dan gak lama dari bekerja, Ayah Saya pun menikah di usia yang cukup muda.

Bapak yang lulusan SMEA itu kemudian bekerja mulai dari tenaga kontrak. Bapak bercerita, bahwa dulu dia mengawali karir di bagian water treatment.

Waktu kecil, ketika Saya masih di Balikpapan. Musim kemarau membuat aliran PDAM berhenti. Bapak selalu memggunakan pompa air di belakang rumah untuk kebutuhan air kami. Entah kenapa, airnya keruh, dan Bapak selalu punya cara untuk membuat airnya jernih.

"Rend, sebelum Bapak diangkat jadi karyawan, Bapak kerja di proses water treatment. Bapak paling ngerti jernih-jernihin gini."

Itulah romantisme Saya dan Bapak disekitaran pompa listrik yang suka ngadat.

Kerja keras Bapak sebagai tenaga water treatment membuat dia mulai mendapat kepercayaan perusahaan. Suatu saat, akhirnya perusahaan mengangkatnya menjadi seorang Karyawan. 

Sebagai lulusan SMEA, tentu Bapak Saya harus mengawali karir dari posisi paling bawah di perusahaan : operator.

Saat ini, menjelang setahun masa pensiunnya, Bapak sering mengajari Saya,

"Belajar Rend, Bapak ini buktinya. Lulusan SMEA Rend, perkalian pecahan aja bapak gak bisa. Tapi kalo belajar, serius, tekun, bisa Rend. Harus loyal sama perusahaan. Kasih lebih. Kasih lebih.

Di lapangan itu Bapak perhatikan bos Bapak betul-betul. Bapak catat sumur itu betuk-betul. Valve nya yang mana, alirannya kemana, hafal bapak.

Mesin-mesin kompressor itu, tahu semua Bapak. Belajar Rend. Yang tekun. Jangan lihat posisi Bapak hari ini."

Bapak memang mengajarkan keyakinan dan keajaiban. Dari lulusan SMEA, mengawali kerja sebagai operator, dan di masa pensiunnya, Bapak menduduki tempat yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

***

Suatu saat, Saya diajak Bapak ke lapangan. Waktu itu ada acara di perusahaannya dan dia diminta hadir. Bapak pun inisiatif mengajak Saya. Karena Saya penasaran dengan kerjaan Bapak Saya. Dan lagipula perjalannya hanya pulang pergi.

Karena itu acara karyawan, Saya memilih tidur di asrama Bapak. Waktu itu Bapak non staff, kamarnya di bagi untuk 4 orang. Saat itu, teman satu shift Ayah yang sedang kerja hanya 1 orang. Teman Ayah yang tidur di sebelah lemari, dengkurannya keras sekali.

Karena tidak bisa tidur, Saya pun mulai mengamati meja dan lemari Bapak. Saat Saya buka lemari, Saya menemukan foto Saya tertempel di lemari Bapak. 

Rendy kecil waktu itu sadar bahwa Bapak sangat menyayangi Saya. Dia lelah bekerja 12 jam sehari benar-benar untuk Saya. Dan sampai hari ini Saya merasa belum berbuat apa-apa untuk Bapak Saya.

***

Saat masih non staff dulu. Bapak kerja 2 minggu di Badak dan 1 minggu di Balikpapan. 1 minggu bersama Bapak itu momen mahal sekali. Dan di pekan itulah Bapak selalu menanamkan nilai-nilai dasar dalam diri Saya.

Dengan sedan Starlet tahun 86, Bapak mengantar dan menjemput Saya ke sekolah. Tapi Bapak tidak sekedar menjemput. Bapak selalu punya rencana dan cerita.

Setiap pulang sekolah, kami tidak langsung mengarah ke rumah. Jika langsung mengarah ke rumah, pasti 15 menit sampai. Namun Bapak memilih untuk mengajak Saya keliling kota. Agar lama.

Anda jangan bayangkan Balikpapan seperti Jakarta. Mengelilingi Balikpapan adalah menembus Jalan minyak dan memutar kembali ke rumah. Itu sudah 1 putaran. Saya dan Kakak Saya menyebutnya dengan skalput. Sekali Putar.

Di Mobil itu, Bapak selalu menceramahi Saya dengan inspirasi-inspirasi yang dia dapatkan. Jika Saya ingat masa itu, betapa sabarnya Bapak Saya, melakukan itu sejak Saya 1 SD.

Jika Saya terlihat bosan diceramahi dalam di dalam mobil. Bapak Saya akan mengajak Saya makan di KFC, tempat yang paling membahagiakan diri Saya. Dan disanalah Bapak Saya menceramahi Saya sambil Saya melahap ayam. Makin banyak ayamnya, makin panjang kesempatannya menceramahi Saya.

Sejak 1 SD, Saya sudah diajak berfikir tentang masa depan. Mau jadi apa dan seterusnya. Saya selalu dijelaskan tentang pemahaman pemahaman Bapak yang dia sampaikan tanpa melihat celana pendek merah yang Saya pakai.

"Bapak ini ya Rend, beruntung aja dari SMEA bisa kerja di perusahaan minyak. Belajarnya tahunan. Anak-anak muda lulusan Teknik Perminyakan ITB itu baru masuk, gajinya sudah sama kayak Bapak. Kamu harus pintar, jadi kayak temen-temen bapak itu nah.. mereka gajinya besar-besar. ITB itu.."

Bapak selalu berpesan tentang waktu. Tentang masa muda yang gak berulang. Tentang kehidupan yang tidak mudah. 

Semangat itu kemudian Dia tunjukkan dengan selalu membawa merchandise ITB setiap training dari Bandung. Sweater ITB, kalkulator bonus dari pelatihan, topi ITB, dan segala macem tentang lambang-lambang kampus ITB. Rendy kecil hanya bisa pasrah menerimanya. 

***

Bapak termasuk orang yang selalu berfokus pada kehebatan anaknya. Bapak jarang membahas kelemahan anaknya. Bahkan tidak pernah. Suatu hari Saya kalah lomba pidato bahasa inggris, padahal untuk lomba pidato dan kultum, Saya selalu juara.

"Kamu itu pintar ngomong, hebat, salut Bapak. Hari ini kalah ya gak papa, latihan lagi, kan baru belajar pidato bahasa inggris."

Bapak selalu menerima baik dan kurang anaknya.

**

Saat Saya merantau ke Bandung untuk kuliah. Bapak bahkan menemani Saya untuk mencari kostan, bimbel, hingga saat pengumuman ujian pun, Bapak ikut menemani Saya.

Alhamdulillah, Saat itu Saya diterima di Teknik Perminyakan ITB. Itu adalah mimpi Bapak Saya sejak dia melihat Saya masih memakai celana merah.

Singkat cerita, kuliah Saya tidak lancar. Kualitas diri Saya tidak siap untuk merantau dan hidup mandiri sebagai Mahasiswa. Saya akhirnya memutuskan keluar. Saya harus mengubur dalam-dalam mimpi Bapak Saya. Mimpi seorang Bapak yang bekerja 12 jam sehari untuk anaknya. Seorang Bapak yang rela bercebur lumpur untuk membesarkan anaknya. Seorang Bapak yang memaksa dirinya untuk menelan gambar-gambar mesin hanya untuk membangun rumah tangganya.

Mimpi itu Saya kubur. Anak jahat ini kemudian harus pulang ke Balikpapan untuk mengatakan bahwa "Saya sudah gak kuat kuliah. Ini bukan hidup Saya. Saya gak ngerti apa yang diajarkan. Saya ingin menentukan jalan hidup Saya sendiri"

Saya sampaikan itu dengan tangisan tak henti. Di kamar Mama-Bapak. Didepan mereka. Saya siap dimarahi dan dimaki saat itu. Karena memang Saya mengubur impian mereka. Terutama impian Bapak.

Tetapi Bapak, sangat mengejutkan jawabannya,

"Diteruskan kuliah juga kayaknya gak selesai, Bapak senang dengan jalan hidup kamu sekarang, asal Rendy tanggung jawab, sudah ada anak dan istri. Itu tanggung jawab Rendy. Ndak papa."

Saya yang polos kemudian menyeloroh konyol,

"Tapi pak, biaya masuk ITB, sama SPP, biaya hidup, sudah mahal betul, sia-sia Bapak keluar uang, Rendy mohon maaf"

Lagi-lagi Bapak hebat jawabannya,

"Itu ongkos bergaul. Bapak biaya-in agar Rendy bergaul dengan orang-krang terbaik. Itu mahal. Bapak sudah ridho. Gak usah difikirin, melangkah yang betul, selama Rendy tekun, bisa, Bapak Yakin"

***

Malam ini Saya mensyukuri banyak hal. Dan menyesali banyak hal. Ada sedih, ada bahagia. Bercampur sedemikian rupa.

Saya sedih, karena Saya anak yang tega begitu Saya mengubur dalam-dalam mimpi Bapak Saya. Seorang Bapak yang setia membangun mimpi agar anaknya masuk ITB dan itu terwujud. Namun Saya tidak mewujudkan mimpi kehadirannya di hari wisuda Saya.

Saya bahagia, karena Allah menitipkan Saya pada seorang Bapak yang mau menerima Saya apa adanya. Seorang anak yang banyak kekurangannya, namun Bapak selalu bisa melihat sisi baiknya.

Terima Kasih Bapak. sudah menjadi Bapak yang sangat baik untuk Saya. Dan bahkan menjadi Kayi yang baik untuk anak-anak Saya.

Rendy Saputra
Anak Bapak
#RinduAyah


Rendy Saputra

Tidak ada komentar