PASANG IKLAN DISINI (728 X 90)

Breaking News

Review Film - Film Tausiyah Cinta dan Evaluasi Dakwah Kita

Beberapa Review Film Tausiyah Cinta dari Sahabat TC

Berikut Review Umi Laila Sari
Film Tausiyah Cinta dan Evaluasi Dakwah Kita
Oleh: Umi Laila Sari *

Bersyukur saya dapat kesempatan menonton film Tausiyah Cinta (TC) di hari dan jam pertama tayang serentak di bioskop tanah air. Kami tidak pesan tiket online. Langsung beli di tempat sejam sebelum pemutaran film. Hasilnya dapat di kursi deretan depan karena semua sudah penuh. Awal yang bagus untuk film yang digadang-gadang sebagai film dakwah dan sudah ramai promosinya di medsos beberapa bulan sebelumnya.

Sebagai penggiat sastra, saya merasa penting menonton film arahan sutradara Humar Hadi ini. Selain tentu saja bukti nyata mendukung film Islami yang sepertinya mulai punya tempat di ranah perfilman Indonesia.

Sebenarnya banyak catatan saya terhadap film TC namun di tulisan ini hanya akan mengungkapkan hal yang begitu dekat dengan para aktivis dakwah. 

Di awal film, ada adegan perselisihan antara Lefan (Rendy Herpy) dengan Elfa (Hidayatur Rahmi) kakak perempuannya. Sang kakak dituding hanya sibuk berdakwah di luar, memenuhi berbagai undangan ceramah di berbagai tempat dan selalu sibuk dengan sejumlah jadwal. Hingga, menurut adiknya tidak punya waktu untuk keluarga. Bahkan ia abai terhadap dakwah terhadap keluarganya sendiri. Sebaliknya, sang adik justru dituduh terlalu sibuk dengan bisnisnya hingga tak sempat memperhatikan ibadah. Perseteruan yang dibiarkan hingga akhirnya Elfa meninggal.

Tentu saja, kondisi di atas sangat mungkin terjadi di keluarga aktivis dakwah. Masing-masing anggota keluarga punya kesibukan sendiri hingga lupa membenahi kondisi internal. Keluarga justru kurang merasakan kesholihan aktivis dakwah. Padahal masyarakat luas punya ekspektasi lebih terhadap keluarga da'i. Orang lebih mudah menghakimi ketika ada bagian dari keluarga da'i melakukan kesalahan. Mungkin hal tersebut tidak adil. Tapi demikianlah konsekunsi yang harus diterima oleh para penyeru dakwah. 

Hal yang cukup saya sayangkan adalah pembiaran konflik kakak-adik dalam film tersebut. Karena ketika fenomena kondisi  keluarga da'i dimunculkan ke ruang publik namun tanpa disertai antiklimaks maka saya khawatir akan menjadi stigma buruk terhadap da'i. "Di luar amat-amat baik tapi di dalam tidak baik-baik amat," penggalan komentar Lefan kepada kakaknya di adegan film TC. 

Artinya, ini menjadi semacam evaluasi bagi setiap kita. Sebab siapapun kita sejatinya adalah da'i. Mengajak kebaikan pada orang lain adalah kewajiban. Namun menjadikan keluarga sebagai objek utama dakwah adalah keharusan. Begitu yang diajarkan Rasulullah dalam perjalanan hidupnya. Khadijah ra., sang istri dan Ali bin Abi Thalib, sepupunya adalah keluarga beliau yang menjadi assabiqun al-awwalun menerima kebenaran Islam.

Akan menjadi sangat memilukan manakala orang-orang terdekat justru menolak dakwah kita. Pantaslah Rasulullah hingga menitikkan air mata saat hingga menjelang wafat, pamannya Abu Thalib tidak jua mengucapkan syahadat. 

Sebaliknya betapa bahagia bilamana seorang da'i mampu menuntun keluarganya dalam kebaikan.
Meski memang, berdakwah dengan keluarga punya tantangan tersendiri. Mereka adalah orang yang tahu persis diri kita. Tidak ada yang bisa ditutupi semua kekurangan. Tidak ada pencitraan. Hingga perbaikan kualitas ibadah, akhlaq dan muamalah sang da'i menjadi kunci keberhasilan seruannya.

Dan tentu, dakwah ke keluarga butuh kesabaran. Di awali dengan kelurga yang tidak menghalangi dakwah lalu menjadi pendukung dakwah hingga menjadi bagian dari dakwah itu sendiri. Kondisi ideal ini berhasil disuguhkan lewat peran Azka (Hamas Syahid Izzudin) yang mewakili sosok da'i. Manakala ia mendapat ujian yang berat hingga membuatnya merasa tidak berarti lagi, ada peran keluarga yang menguatkannya.

Sebagaimana 'jualan' yang butuh pemikat agar ramai pembeli. Maka film produksi BedaSinema Picture, seperti judulnya memberi bumbu cinta antar lawan jenis  dengan kehadiran sosok Rein (Ressa Rere). Namun bagi saya tontonan ini tetap aman bagi remaja meski mereka yang masih galau dengan jodohnya.

Mampu mengangkat tema dakwah adalah kesuksesan film TC. Menjadikan konsep pergaulan Islami menjadi trend di kalangan remaja muslim Indonesia butuh promosi luar biasa yang salah satunya melalui media film. Hingga usaha menghadirkan film TC merupakan satu langkah membanggakan. Sebuah film yang patut direkomendasi untuk remaja, para orang tua yang memiliki anak remaja, juga para da'i yang membina di dakwah sekolah, kampus hingga komunitas kepemudaan. 

Selamat untuk semua pihak yang sudah terlibat di film ini. Ingat, ada evaluasi yang harus diselesaikan para aktivis dakwah agar apa yang dikritik film TC tidak terbukti!

*Penikmat film berkualitas ..


Berikut Review dari Ir Abdul Hadi Wijaya , Msc.


Tidak ada komentar